Rabu, 20 Mei 2009

Mahalnya Pendidikan Kejuruan


DALAM undang-undang, anggaran untuk pendidikan dialokasikan sebesar 20%,
sehingga diharapkan pendidikan di Indonesia dapat lebih maju bila dibanding
tahun-tahun sebelumnya.
Pengalokasian anggaran sebesar itu kenyataannya belum dapat terealisasi
sepenuhnya sampai saat ini. Penyebabnya banyak. Yang jelas anggaran untuk
pendidikan sampai saat masih kurang dari kebutuhan yang seharusnya. Oleh
karena itu wajarlah kalau mutu pendidikan di Indonesia masih tergolong
rendah.
Pendidikan tingkat menengah dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu
pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan
menengah umum seperti SMA atau sejenisnya. Sedangkan pendidikan menengah
kejuruan, seperti SMK (Sekolah Menengah Kejuruan).
Pengelolaan dua kelompok sekolah ini sangat berbeda jauh. Untuk SMA, tujuan
utamanya adalah tamatannya dapat diterima/melanjutkan ke jenjang pendidikan
yang lebih tinggi. Sedangkan SMK tamatannya diharapkan dapat bekerja pada
perusahaan/instansi/orang lain atau menciptakan lapangan kerja sendiri.
Oleh karena itu pendidikan di SMK diharapkan dapat membekali para
siswaya/tamatannya berupa keterampilan yang dapat menjadi bekal hidup kelak
di kemudian hari.
Untk mencetak tamatan seperti tersebut di atas dibutuhkan biaya tidak
sedikit. Apalagi di SMK yang menyelenggarakan beberapa bidang keahlian
(jurusan), jelas biaya sangat tinggi. Misalnya satu SMK menyelenggarakan
bidang keahlian teknik mesin dan bidang keahlian Bisnis dan Manajemen, maka
pengeluaran biaya untuk kegiatan belajar - mengajarnya harus selalu
tersedia, kalau kegiatan itu ingin lancar.
Praktik
Secara umum kegiatan belajar- mengajar di SMK meliputi teori dan praktik.
Kegiatan belajar teori pada prinsipnya sama dengan sekolah umum. Sedangkan
kegiatan belajar praktik merupakan kegiatan belajar yang seharusnya lebih
banyak dibanding dengan kegiatan teori. Oleh karena itu sebenarnya untuk SMK
ruang teori bukan merupakan hal sangat penting, karena siswa seharusnya
lebih banyak di ruang praktik.
Untuk menunjang kegiatan belajar praktik di SMK, diperlukan dana untuk
penyediaan peralatan maupun bahan praktik yang dibutuhkan.
Tanpa tersedianya alat dan bahan tersebut, maka SMK akan menjadi SMK teori
atau dikenal juga istilah SMK sastra. Alat dan bahan yang dibutuhkan
kegiatan praktik siswa rata-rata harganya relatif mahal, sehingga untuk
kelancaran praktik tersebut diperlukan biaya yang banyak/besar.
Disamping itu, untuk mencapai sasaran yang diharapkan diperlukan tenaga
pengajar/guru yang mempunyai kompetensi di bidangnya. Untuk mendapatkan guru
yang seperti ini tidak mudah. Apalagi teknologi terus berkembang sesuai
dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Seharusnya guru selalu mengikuti
perkembangan teknologi agar tidak ketinggalan teknologi. Diharapkan mereka
mengajarkan teknologi yang terkini. Hal ini pun masih terdapat kendala,
karena pendidikan memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga yang diajarkan
sekarang mungkin pada saat siswa tamat, teknologi tersebut sudah
ketinggalan.
Sangat Perlu
Pelatihan atau kursus merupakan suatu hal yang sangat diperlukan guru SMK,
agar tidak ketinggalan teknologi. Beberapa cara, baik pelatihan di dalam
maupun di luar negeri. Diadakan/diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh
sekolah itu sendiri secara mandiri, jika sekolah itu mampu.
Mengirim guru untuk meng-ikuti pelatihan yang dibiayai sendiri oleh sekolah,
perlu memperhitungkan biaya yang dikeluarkan. Selain biayanya menjadi cukup
tinggi, juga perlu dihitung secara cermat agar pengiriman mengikuti
pelatihan tidak mengganggu kegiatan di sekolah.
Mungkin juga dapat dicari tempat-tempat pelatihan yang dapat membantu
pelatihan guru.
Jika mengirim guru untuk mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh
pemerintah, sekolah harus menunggu program pemerintah. Pelatihan apa yang
akan diselenggarakan dan kapan pelaksanaannya, sehingga walaupun kita sudah
sangat butuh guru mempunyai kompetensi tertentu, kalau pemerintah belum
menyelenggarakan, maka guru tetap menunggu. Di sisi lain pemerintah masih
menunggu anggaran yang tepat untuk itu.
Berbeda dengan pelatihan yang direncanakan dan dibiayai sendiri oleh
sekolah. Jenis pelatihan apa yang dibutuhkan dan kapan akan dilaksanakan
dapat segera diadakan.Dengan cara ini sekolah tidak mengalami kesulitan
mendapatkan kompetensi guru yang sangat dibutuhkan.
Disamping kegiatan belajar teori dan praktik di sekolah, siswa juga
diwajibkan mengikuti kegiatan Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Sekarang
disebut juga dengan istilah Praktik Kerja Industri (Prakerin). Semua siswa
SMK wajib mengikuti program ini. Pelaksanaannya dapat dimulai dari kelas 1
sampai kelas 3. Namun biasanya prakerin ini dilaksanakan mulai dari kelas 2
dan 3. Karena kalau mulai dari kelas 1, dianggap belum siap.
Lama kegiatan prakerin ini antara satu sekolah dengan sekolah lain
bervariasi (tidak sama). Juga antara bidang keahlian yang satu dengan yang
lain pun waktunya tidak sama. Tempat prakerin pun menentukan lama tidaknya
prakerin tersebut. Oleh karena itu banyak hal yang menentukan lama tidaknya
waktu prakerin. Secara umum lama prakerin berkisar antara tiga bulan sampai
enam bulan.
Tempat/lokasi prakerin dapat dibicarakan antara siswa dengan sekolah. Karena
tempat prakerin ini dapat dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah. Bagi
sekolah yang kegiatan Unit Produksinya sudah berkembang dapat digunakan
untuk prakerin.
Unit produksi di SMK merupakan kegiatan usaha yang bertujuan untuk
memperoleh nilai tambah/keuntungan dari kegiatan usaha. Baik kegiatan usaha
jasa atau kegiatan produksi, sehingga diharapkan ada tambahan pemasukan
untuk sekolah, yang dapat mendukung Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah.
Bagi sekolah yang unit produksinya belum berkembang, pelaksanaan prakerin
dilaksanakan di luar sekolah. Pengertian di luar sekolah yaitu dilaksanakan
di dunia usaha atau dunia industri. Riilnya tempat pelaksanaan prakerin di
instansi pemerintah atau swasta dan dapat pula dilaksanakan di
perusahaan-perusahaan baik milik pemerintah maupun swasta yang ada di
Indonesia.
Bagi sekolah yang sudah maju dan mampu, prakerin tidak hanya dilaksanakan di
dalam negeri tetapi dilaksanakan juga di luar negeri, dengan waktu
pelaksanaan relatif lebih lama. Rata-rata waktunya lebih lama bila dibanding
dengan prakerin yang dilaksanakan di Indonesia (dalam negeri).
Negara tujuan perlu disesuaikan dengan bidang keahlian dari sekolah pengirim
peserta prakerin. Untuk kelancaran prakerin sekolah perlu mempersiapkan,
baik siswanya ataupun pelengkapan administrasinya.,sehingga siswa tidak
mengalami hambatan untuk keberangkatannya ke luar negeri.
Untuk melaksanakan prakerin ini, kalau tempatnya di luar sekolah/di luar
luar propinsi atau bahkan di luar negeri, sudah barang tentu juga diperlukan
dana yang tidak sedikit, baik yang menjadi beban siswa itu sendiri maupun
beban sekolah.
Biaya itu antara lain untuk transportasi dan kalau prakerin ke luar negeri
disamping biaya transportasi juga untuk penyelesaian
surat-surat/administrasi.
Kalau biaya-biaya itu dikumpulkan atau dihitung dari awal, siswa masuk
sampai siswa tamat dari SMK, maka jumlahnya menjadi sangat besar. Bila
dibandingkan dengan sekolah umum, bedanya sangat jauh/besar. Hal ini
kadang-kadang orang tua/wali siswa ada yang belum menyadari, sehingga kalau
pihak sekolah mengajukan anggaran belum sepenuhnya diterima oleh
masyarakat/orang tua siswa.
Memang pemerintah melalui Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan
(Dikmenjur) telah menawarkan beberapa program untuk membantu kelancaran
pelaksanaan program di SMK. Namun tidak semua SMK dapat mengajukan bantuan
tersebut karena ada beberapa faktor persyaratan yang sulit/tidak dapat
dipenuhi. Disamping itu dari pemerintah Provinsi atau Kabupaten juga
kadang-kadang ada bantuan untuk SMK.
Namun lagi-lagi belum dapat menjangkau ke semua sekolah karena jumlah SMK
baik dalam hitungan tingkat provinsi maupun kabupaten jumlahnya cukup
banyak, sehingga yang mendapat bantuan pun menjadi sangat terbatas. Maka
tinggal pandai-pandainya sekolah bersaing untuk mendapatkan bantuan
tersebut.
Dari jumlah SMK yang hitungannya banyak itu untuk wilayah Provinsi Jawa
Tengah dan kabupaten-kabupaten yang ada , jumlah SMK negerinya sangat
sedikit. Sebagian besar adalah sekolah swasta yang kondisinya sangat
bervariasi. Dari sekolah kondisinya sangat baik sampai sekolah yang
kondisinya kurang baik.
Keberadaan/lokasi SMK inipun sangat beragam. Ada SMK yang lokasinya di kota
dan sangat strategis sampai dengan SMK yang lokasinya jauh dari kota atau di
desa. Letak/lokasi keberadaan SMK ini sangat mempengaruhi perkembangan
sekolah.
Rata-rata SMK yang berada di kota lebih cepat mengikuti perkembangan ilmu
dan teknologi, dibanding sekolah yang jauh dari kota. Hal ini dikarenakan
adanya dorongan dari luar sekolah yang selalu terjadi
perubahan/perkembangan, sehingga mau tidak mau sekolah terpacu untuk
mengikuti perkembangan yang ada di sekitarnya.
Untuk menunjang kelancaran kegiatan belajar - mengajar baik itu sekolah
negeri maupun swasta diperlukan dana. Dana dapat digali melalui beberapa
sumber. Namun bagi sekolah swasta sumber dana utama adalah dari orang tua
siswa. Padahal yang masuk SMK terutama rata-rata dari kalangan ekonomi
menengah ke bawah dan sebagian besar berada jauh dari kota. Karenanya kalau
orang tua siswa dimintai biaya sekolah yang tinggi merasa keberatan.
Seharusnya biaya yang dikeluarkan orang tua siswa SMK jauh lebih besar
dibanding biaya untuk sekolah umum.
Bagi sekolah swasta disamping untuk membiayai kegiatan-kegiatan seperti
tersebut di atas, juga untuk membayar honorarium guru. Sebagian besar
sekolah swasta gurunya juga guru swasta, yang pembayaran honorarium/gajnya
tergantung sekolah atau yayasan sebagai penyelenggara.
Antara biaya dan prestasi sekolah merupakan suatu hal saling berhubungan.
Sekolah dapat maju dan berkembang apabila ditunjang dengan dana yang cukup.
Akan tetapi kalau dana tersebut dibebankan kepada orang tua siswa maka
bebannya menjadi berat. Mungkin jumlah siswa di SMK sedikit, karena tidak
mampu membayar sekolah.
Dari kenyataan tersebut di atas maka SMK sulit melakukan perkembangan. Yang
terjadi saat ini pada sekolah-sekolah terutama yang kesulitan dana, hanya
melaksanakan kurikulum apa adanya. Tuntutan perkembangan masih menjadi
anggaran atau impian saja. Kecuali kalau ada donatur/intitusi yang dengan
suka rela membantu sekolah yang sedang mengalami kesulitan dana
tersebut.(18)
- Ir Tawan Rosidi, Pengawas SMK Kabupaten Banjarnegara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar