Jumat, 29 Mei 2009

Menyiapkan Generasi Super

Anak indigo lahir dianugerahi kemampuan lebih sehingga memerlukan pendidikan secara khusus. Kini tinggal bagaimana memperlakukan mereka untuk kejayaan dan masa depan bengsa ini.

PERISTIWA Mei 1998 waktu itu belum lama berselang. Sekelompok ibu beserta anaknya, suatu siang mendatangi sebuah klinik psikologi didaerah Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Para ibu tersebut mengaku resah terhadap pola tingkah anaknya yang dalam psikologi modern disebut indigo (anak memiliki kemampuan lebih). Dalam percakapannya, para ibu itu menceritakan bahwa jauh sebelum kerusuhan Mei 1998 meletus, anaknya pernah menceritakkan hal yang sama tentang kejadian itu. Ada lagi, seorang ibu yang merasa heran anaknya yang berusia 6 tahun, bertutur bahwa tidak lama lagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak utuh lagi.
Lalu, buru-buru para ibu tersebut berikrar akan mengarahkan anaknya berpandangan ‘baik’ seperti mendukung keberadaan NKRI. Ia pun meminta kepada pemilik klinik, dr H Tubagus Erwin Kusuma, SpKJ untuk mengarahkan kemampuan anak-anaknya untuk kemaslahatan bangsa.
Dari kisah itu pula Erwin merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu bagi anak-anak indigo, yang kebetulan penanganan secara formal belum tersentuh oleh pemerintah.
Apalagi juga beredar cerita akhir-akhir ini ada upaya-upaya dari negara lain yang memburu anak-anak indigo asal indonesia untuk sebuah proyek rahasia tertentu. Di Amerika Serikat, perlakuan pemerintah terhadap anak-anak indigo ini sudah berkembang jauh. Kabarnya untuk program yang sangat rumit Badan Antariksa Nasional AS (NASA) khusus merekrut anak-anak indigo.
Herannya di indonesia perhatian terhadap masa depan anak indigo yang diperkirakan mencapai 600 orang masih nihil. “Jumlah anak indigo ibarat gunung es (ice-berg), hanya sepersepuluh bagian yang tampak di atas permukaan,” kata Erwin kepada Media Indonesia di Klinik Pro-V, Jakarta. Sebanyak 70 anak indigo saat ini ia tangani dengan metode konsultasi, yakni dengan memberikan bimbinga dan pengarahan.
Dalam pandangannya, Indonesia memang tertinggal dalam penanganan pendidikian akan khusus ’super jenius’ ini. Apalagi sejak delapan tahun silam, para ilmuan dunia, khususnya psikiater, telah menetapkan sebagai tahun milenium spiritual. Tahun di mana lahir anak-anak indigo, berkemampuan spiritual secara serentak di seluruh dunia.
Sebelum tahun 2000, keberadaan anak indigo memang relatif sedikit. Masa itu oleh Erwin dikategorikan sebagai generasi nalar.
Kondisi ini merupakan seleksi alamiah dengan lahirnya generasi nila (campuran warna biru dan ungu) dengan kemampuan spiritual. “Anak indigo kelahiran milenium spiritual memiliki beragam kelebihan,” ungkap Erwin yang mengaku dulunya sebagai anak indigo.
Sosok kelahiran Kupang, 26 Januari 1938 ini mengaku prihatin dengan minimnya perhatian pemerintah terhadap perkembangan anak indigo. Padahal, kelebihan tingkat kecerdasan, IQ, dan kemampuan spiritual (SQ), membuat anak indigo mampu melihat masa depan, masa lalu maupun prediksi apa yang akan terjadi. “Sebut saja waktu kerusuhan Mei 1998, banyak anak indigo mampu melihat adanya api dalam pikiran mereka.”
Beragam kelebihan yang terpancar dari anak-anak indigo, menurut Erwin juga dapat dimanfaatkan untuk menjadi pemimpin bangsa yang luar biasa. Bahkan mereka diyakini mampu memprediksi apa yang terjadi ke depan dengan bangsanya.
Erwin berharap apa yang dilakukannya sekarang, yakni mengadakan pembinaan untuk mengarahkan kemampuan anak indigo ke hal-hal yang positif bisa mendorong pemangku kebijakan ‘ngeh’ bahwa pendidikan tidak harus didisain seperti pendidikan formal yang ada selama ini.

Pendidikan khusus
Salah satu bentuk perhatian yang telah Erwin jalani sejak 2006 lalu ialah membina anak-anak indigo, lewat wadah Yayasan Peduli Pendidikan Anak Indigo (YPPAI).
Pada 2008 lalu ia memperoleh piagam penghargaan atas kepeloporan pada Program Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Anak Indigo dari Departemen Pendidikan Nasional. Penghargaan yang diterimanya ternyata menjadi dorongan tersendiri untuk terus meningkatkan pembinaan terhadap anak-anak indigo. Ia mengaku selama ini hanya mengadakan pembinaan secara individual maupun kelas dalam jumlah yang sedikit. Sosialisasi kepada orang tua anak indigo juga terus dilakukannya. Ia sadar tanpa dukungan orang tuanya, anak indigo cenderung mengalami gangguan kejiwaan ringan.
Kini Erwin menggagas perlu adanya lembaga khusus indigo. Di mana setelah wajib belajar sembilan tahun, anak indigo bisa melanjutkan pendidikannya pada tingkatan khusus layaknya sekolah menengah kejuruan (SMK). Bahkan sampai tingkat pendidikan tinggi.
“Anak indigo harus terus diberi asupan sesuai tipe indigo mereka dan di arahkan pada kemampuan praktis ketimbang teoritis seperti di sekolah umum,” ujarnya.
Ia sadar untuk meraih tujuan itu tidaklah mudah dan perlu sosialisasi dan memberikan pemahaman kepada pemerintah secara terus-menerus. Kini yang ada harapan dan rasa prihatin berbaur menjadi satu dalam diri Erwin, saat membahas seputar keberadaan anak-anak indigo di Indonesia yang jumlahnya semakin banyak.

Mengenal Lebih Jauh tentang Indigo

INDERA KE ENAM: Semua generasi indigo memiliki kemampuan untuk melihat masa depan. Dunia indigo menarik perhatian banyak pihak namun pemerintah mengabaikannya.

BERAGAM kelebihan yang melekat pada anak indigo belum dipandang sebagai anugerah. Sebaliknya, ‘indera keenam’ seperti kemampuan berkomunikasi dengan alam spiritual, oleh masyarakat di pandang sebagai hal yang gaib. Kalau perlu kemampuan seperti itu harus di enyahkan.
Itulah kendala utama Yayasan Peduli Anak Indigo, khususnya Erwin Kusuma, dalam membina perkembangan anak indigo di Indonesia. “Kalau begitu saya tanya apakah remote control dengan infra red-nya juga gaib? Tanya Erwin kepada Media Indonesia.
Alhasil, upaya membentuk pendidikan khusus anak indigo relatif jalan di tempat.
Tidak sedikit orang tua yang belum menyadari anaknya indigo sebenarnya sebagai anugerah. Bahkan banyak orang tua yang cenderung menganggap anaknya berhalusinasi saat melakukan aktivitas indigonya, seperti berkomat-kamit sendiri. Padahal dalam psikologi keadaan seperti itu menandakan anak indigo tengah berkomunikasi dengan alam spiritual.
Pemahaman terhadap anak indigo juga perlu diberikan kepada guru disekolah (umum). Guru di sekolah memiliki peran vital untuk perkembangan anak indigo.
Pada beberapa kasus, IQ anak indigo cenderung lebih tinggi jika dibandingkan dengan IQ gurunya sehingga pada guru yang otoriter cenderung enggan menerima masukan dari anak indigo. Bahkan bila anak indigo menggunakan rumus tersendiri untuk menjawab soal matematika, misalnya, cenderung dinilai salah.
Bisa-bisa karena dimarahi anak indigo menjadi malas. Di sekolah internasional keberadaan anak indigo dibiarkan berpikir sendiri dan ada metode penanganannya.
Karenanya, sosialisasi tentang bagaimana menghadapi anak indigo kepada semua pihak sebagai hal yang penting dan mendesak.
Meski memiliki keterbatasan, Erwin mengusulkan penting untuk mengundang sejumlah guru-guru di sekolah luar Jakarta untuk mengikuti sosialisasi tentang anak indigo. “Indigo berbeda dengan autis maupun gaib,” jelas Erwin.
Anak indigo mampu menguasai berbagai bidang dengan baik. Berbeda dengan anak berbakat yang cenderung berbakat untuk hal-hal tertentu saja. Mereka pun tidak punya sifat anak indigo lainnya.
Anak indigo biasanya memiliki IQ superior atau lebih dari 130, ditambah kecerdasan yang superior hingga kemampuan spiritual. Menurut Erwin, anak indigo memiliki kelebihan dalam empat tipe bidang.
Pertama, humanis. Yakni kecenderungan memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi, baik terhadap sesama manusia maupun mahluk hidup lainnya. Kedua, konseptualis. Rasio yang super membuat anak indigo penuh dengan beragam konsep baru. Misalnya, ia mampu menyelesaikan soal matematika dengan rumus yang berbeda dari biasanya.
Sedangkan tipe ketiga dan keempat adalah artis dan interdimensional. kedua tipe ini berkaitan dengan kemampuan spiritual anak indigo. Seperti yang membuat buku yang berkaitan dengan spiritual dan kemampuan melihat roh.
“Roh itu bisa gunakan badan atau aura manusia. Jadi, manusia itu roh. Anak indigo bisa merupakan reinkarnasi. Meski tubuhnya anak kecil, tapi rohnya adalah orang dewasa,” tutur psikiater spiritual ini.
Atas superior itu Erwin mengatakan, anak indigo mampu melakukan suatu hal lebih cepat jika dibandingkan dengan anak nonindigo lainnya. Anak indigo cenderung lebih aktif. Seusai melakukan suatu kegiatan. Mereka akan beralih melakukan kegiatan lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar