Rabu, 27 Mei 2009

BAB I

HAKIKAT MANUSIA DAN PENGEMBANGANNYA

  1. Sifat Hakikat Manusia
    1. Pengertian Hakikat Manusia

Sifat hakikat manusia diartikan sebagai cirri-ciri karakteristik, yang secara prinsipil membedakan manusia dari hewan. Meskipun demikian antara manusia dengan hewan banyak kemiripan terutama jika dilihat dari segi biologisnya.

    1. Wujud Sifat Hakikat Manusia

Pada bagian ini akan wujud sifat hakikat manusia yang dikemukakan oleh paham eksistensialisme, dengan maksud menjadi masukan dalam membenahi konsep pendidikan, yaitu :

a. Kemampuan menyadari diri

b. Kemampuan bereksistensi

c. Pemilikan kata hati

d. Moral

e. Kemampuan bertanggung jawab

f. Rasa kebebasan

g. Kesediaan melaksanakan kewajiban dan menyadari hak

h. Kemampunan menghayati kebahagiaan

  1. Dimensi-Dimensi Hakikat Manusia serta Potensi, Keunikan, dan Dinamikanya
    1. Dimensi keindividualan

Setiap individu bersifat unik (tidak ada tara dan bandingannya). Secara fisik mungkin bentuk muka sama tetapi terdapat perbedaan mengenai matanya, secara kerohanian mungkin kapasitas intelegensinya sama, tetapi kecenderungan dan perhatiannya terhadap sesuatu berbeda. Karena adanya individualitas itu setiap orang memiliki kehendak, perasaan, cita-cita, kecenderungan, semangat, dan daya tahan yang berbeda. Perkwmbangan lebih lanjut menunjukan bahwa setiap orang memiliki sikap dan pilihan sendiri yang dipertanggung jawabkan sendiri, tanpa mengharapkan bantuan orang lain untuk ikut mempertanggungjawabkan.

Kesanggupan untuk memikul tanggung jawab sendiri merupakan cirri yang sangat esensial dari adanya individualitas pada diri manusia. M.J. Langeveld menyatakan bahwa setiap anak memiliki dorongan untuk mandiri yang sangat kuat, medkipun disisi lain pada anak ada rasa tak berdaya, sehingga memerlukan pihak lain (pendidik) yang dapat dijadikan tempat bergantung untuk memberi perlindungan dan bimbingan. Dengan kata lain kepribadian seseorang tidak akan terbentuk dengan semestinya sehingga seseorang tidak memiliki warna kepribadian yang khas sebagai miliknya. Padahal fungsi utama pendidikan adalah membantu peserta didik untuk membentuk kepribadiannya, atau menemukan kediriannya sendiri. Pola pendidikan yang bersifat demokratis dipandang cocok untuk mendorong bertumbuh dan berkembangnya potensi individualitas sebagaimana dimaksud. Pola pendidikan yang menghambat perkembangan individualitas dalam hubungan ini disebut hubungan patologis. Tugas pendidik hanya untuk menunjukkan jalan dan mendorong subjek didik bagaimana cara mendapatkan sesuatu dalam mengembangkan diri dengan berpedoman pwda prinsip ing ngarso sungtulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.

    1. Dimensi kesosialan

Adanya dimensi kesosialan pada diri manusia tampak lebih jelas pada dorongan untuk bergaul. Dengan adanya dorongan untuk bergaul, setiap oaring ingi bertemu dengan sasamanya. Immanuel Kant seorang filosof tersohor bangsa jerman menyatakan : “manusia hanya menjadi manusia jika berada diantara manusia”. Hanya di dalam berinteraksi dengan sesamanya, dalam saling menerima dan memberi, seseoarang menyadari dan menghayati kemanusiaannya.

    1. Dimensi Kesusilaan

Kesusilaan diartikan mencakup etika dan etiket. Persoalan kesusilaan selalu berhubungan erat dengan nilai-nilai. Pada hakikatnya manusia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan susila, serta melaksanakannya sehingga dikatakan manusia itu adala makhluk susila. Drijakara mengartikan manusia susila sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai, menghayati dan melaksanakan nilai-nlai tersebut dalam perbuatan. Nilai – nlai merupakan sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia karena mengandung nilai kebaikan, keluhuran, kemuliaan dan sebagianya, sehingga dapat diyakini dan dijadikan pedoman dalam hidup. Dilihat asalnya darimana nilai-nilai itu diproduk dibedakan atas tiga macam, yaitu : Nilai otonom, yang bersifat individual (kebaikan menurut pendapat seseorang), nilai heteronom yang bersifat kolektif (kebaikan menurut kelompok), dan nilai keagamaan yaitu nilai yang berasal dari Tuhan. Meskipun nilai otonom dan heteronom itu diperlukan, karena orang atau masyarakat hidup lekat dengan lingkungan tertentu yang memiliki sikon yang berbeda-beda, namun keduanya harus bertumpu pada nilai theonom. Yang terakhir ini merupakan sumber dari seganap nilai yang lain. Tuhan adalah alpha dan omega (pemula dan tujuan akhir).

Berdasarkan uraian tersebut maka pendidikan kesusilaan meliputi rentangan yang luas penggarapannya, mulai dari ranah kognitif yaitu dari mengetahui sampai kepada menginternalisasi nilai sampai kepada ranah afektif dari menyakini, meniati sampai kepada siap sedia untuk melakukan. Meskipun demikian, tekanannya seharusnya dilettakan pada ranah afektif. Konsekuensinya adalah sering memakan wakyu panjang dalam pemrosesannya, kesinambungan, dan memerlukan kesabaran serta ketekunan dari pihak pendidik.

Implikasi pendagogisnya adalah bahwa pendidikan kesusilaan berarti menanam kesediaan dan kesadaran melakukan kewajiban disampimg menerima hak pada peserta didik. Pada masyarakat kita, pemahaman terhadap hak masih perlu ditanamkan tanpa mengabaikankesadaran dan kesediaan malaksanakan kewajiban. Hal ini penting, sebab kepincangan antara keduanya bagaimanapun juga akan mengganggu suasana hidup yang sehat.

    1. Dimensi Keberagaman

Pada hakikatnya manusia adalah makhluk religius. Sejak dahulu kala, sebelum manusia mengenal agama mereka telah opercaya bahwa diluar alam yang dapat dijangkau dengan perantaraan alat indaranya, diyakini adanya kekuatan supranatural yang menguasai hidup alam semesta ini. Untuk berkomunikasi dan mendekatkan diri kepada kekuatan tersebut diciptakanlah mitos-mitos. Misalnya untuk meminta sesuatu dari kekuatan-kekuatan tersebut dilakukan bermacam-macam upacara, menyediakan sesaje-sesajen, dan memberikan korban-korban. Sikap dan kebiasaan yang membudaya pada nenek moyang kita seperti itu dipandang sebagai embrio dari kehidupan manusia dalam beragama.

Manusia dapat menghayati agama melalui proses pendidikan agama. Pendidikan agama seyogyanya menjadi tugas orang tua dalam lingkungan keluarga, karena pendidikan agama adalah persoalan afektif dan kata hati. Penanaman sikap dan kebiasaan dalam beragama dimulai sedini mungkin, meskipun masih terbatas pada latihan kebiasaan. Tetapi untuk pengembangan pengkajian lebih lanjut tentunya tidak dapat diserahkan hanya kepada orang tua. Untuk itu pengkajian agama secara massal dapat dimanfaatkan misalnya pendidikan agama disekolah.

Disini perlu ditekankan bahwa meskipun pengkajian agama melalui mata pelajaran agama ditingkatkan, namun tetap harus disadari bahwa pendidikan agama bukan semata-mata pelajaran agama yang hanya memberikan pengetahuan tentang agama. Jadi, segi afektif harus diutamakan.

  1. Pengembangan Dimensi Hakikat Manusia
    1. Pengembangan yang Utuh

Tingkat keutuhan perkembangan dimensi hakikat manusia ditentukan oleh dua factor, yaitu kualitas dimensi hakikat manusia itu sendiri secara potensial dan kualitas pendidikan yang disediakan untuk memberikan pelayanan atas perkembangannya. Meskipun ada tendensi pandangan modern yang lebih cenderung memberikan tekanan yang lebih pada pengaruh perkembangan iptek yang sangat pesat yang memberikan dampak pada peningkatan perelkayasa pendidikan melalui teknologi pendidikan.

Namun, demikian kualitas dari hasil akhir pendidikan sebenarnya harus dipulangkan kembali kepada peserta didik itu sendiri sebagai subjek sasaran pendidikan. Pendidikan yang berhasil adalah pendidkan yang sanggup menghantar subjek didik menjadi seperti dirinya sendiri selaku anggota masyarakat.

Dapat disimpulkan bahwa pengembangan dimensi hakikat manusia yang utuh diartikan sebagai pembinaan yang terpadu terhadap dimensi hakikat manusia sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara selaras. Perkembangan yang dimaksud mencakup yang bersifat yang menciptakan keseimbangan dan yang bersifat menciptakan ketinggian manusia. Dengan demikian secara totalitas membentuk manusia yang utuh.

    1. Pengembangan yang Tidak Utuh

Pengembangan yang tidak utuh terhadap dimensi hakikat mannusia akan terjadi di dalam proses pengembangan jika ada unsur dimensi hakikat manusia yang terabaikan untuk ditangani, misalnya dimensi kesosialan didominasi oleh pengembangan domain kognitif. Demikian pula secara vertikal ada domain tingkah laku yang terabaikan penanganannya.

Pengembangan yang tidak utuh berakibat terbentuknya kepribadian yang pincang dan tidak mantap. Pengembangan semacam ini merupakan yang patologis.

BAB II

PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN

  1. Pengertian Pendidikan
    1. Batasan tentang Pendidikan

a. Pendidikan sebagai proses Transformasi Budaya

Sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu ngenerasi ke generasi yang lain. Seperti bayi lahir sudah berada di dalam suatu lingkungan budaya tertentu. Di dalam lingkungan masyarakat di mana seorang bayi dilahirkan telah terdapat kebiasaan-kebiasaan tertentu, larangan-larangan dan anjuran, dan ajakan tertentu seperti yang dikehendaki oleh masyarakat. Hal- hal tersebut mengenai banyak hal seperti bahasa, cara menerima tamu, makanan, istirahat, bekerja, perkawinan, bercocok tanam, dan seterusnya. Dengan menyadari bahwa sistem pendidikan itu merupakan subsistem dari system pembangunan nasional maka, misi pendidikan sebagai transformasi budaya harus sinkron dengan beberapa pernyataan GBHN yang memberikan tekanan peda upaya pelestarian dan pengembanga kebudayaan, yaitu sebagai berikut.

1) Kebdayaan nsional yang berlandaskan pancasila adalah perwujudan cipta, rasa, dan karsa bangsa Indonesia.

2) Kebudayaan nasioanl yang mencerminkan nilai-ailai luhur bangsa harus terus dipelihara, dibina, dan dikembangkan sehingga mampu menjadi penggerak bagi perwujudan cita-cita bangsa di masa depan.

3) Perlu ditumbuhkan kemampuan masyarakat untuk mengangkat nilai-nilai sosial budaya daerah yang luhur serta menyerap nilai-nilai dari luar yang positip dan yang diperlukan bagi pembaruan dalam proses pembangunan.

4) Perlu terus diciptakan suasana yang mendorong tumbuh dan berkembangnya disiplin nasional serta sikap budaya yang mampu menjawab tantangan pembangunan dengan dikembangkan pranata social yang dapat mendukung proses pemantapan budaya bangsa.

5) Usaha pembaruan perlu dilanjutkan di segala bidang kehidupan, bidang ekonomi, dan dodial budaya.

b. Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Pribadi

Proses pembentukan pribadi meliputi dua sasaran yaitu pembentukan pribadi bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang sudah dewasa, dan bagi mereka yamng sudah dewasa atas usaha sendiri. Yang terakhir ini disebut pendidikan diri sendiri. Kedua-duanya bersifat alamiah dan menjadi keharusan. Bayi yang baru lahir kepribadiannya belum terbentuk, belum mempunyai warna dan corak kepribadian yang tertentu. Ia baru merupakan individu, belum suatu pribadi. Untuk menjadi suatu pribadi perlu mendapat bimbingan, latihan-latihan, dan pengalaman melalui bergaul dengan lingkungannya, khususnya dengan lingkungan pendidikan.

c. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warga Negara

Pendidikan sebagai penyiapan warga negara diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga nagara yang baik. Tentu saja istilah baik disini bersifat relatif, tergantung kepada tujuan nasional dari masing-masing bangsa, oleh karena masing-masing bangsa mempunyai falsafah hidup yang berbeda-beda.

d. Pendidikan sebagai Penyiapan Tenaga Kerja

Pendidikan debagai penyiapan tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar untuk bekerja. Pembekalan dsasar berupa pembetukan sikap pengetahuan dan keterampilan kerja pada calon keluaran. Ini menjadi misi penting dari pendidikan karena bekeja menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia. Bekerja menjadi penopang hidup seseorang dan keluarga sehingga tidak bergantung dan mangganggu orang lain.melalui kegian bekerja seseorang mendapat kepuasan bukan saja karena menerima imbalan melainkan juga kerena seseoarang dapat memberikan sesuatu kepada orang lain (jasa ataupun benda), bergaul,berkreasi,dan bersibuk diri. Kebenaran hal tersebut menjadi jelas bila kita melihat hal yang sebaliknya, yaitu menganggur adalah musuh kehiduna.

    1. Tujuan dan Proses Pendidikan

a. Tujuan Pendidikan

Ada 4 jenjang tujuan pada pendidikan yaitu :

1. tujuan umum pendidikan Indonesia ialah manusia Pancasila.

2. Tujuan Institusional yaitu tujuan yang menjadi tugas dari lembaga pendidikan dari lembaga tertentu untuk mencapainya. Misalnya tujuan pendidikan tingkat SD berbeda dari tujuan tingkat menengah, dan seterusnya. Tujuan pendidikan pertanian tidak sama dengan tujan pendidikan teknik. Jika semua lembaga dapat mencapai tujuannya berarti tujuan nasional tercapai, yaitu terwujudnya manusia pencasilais yang memiliki bekal khusus sesuai dengan misis lembaga pendidikan dimana seseorang menggembleng diri.

3. Tujuan Kulikuler yaitu tujuan bidang studi atau mata pelajaran

4. Tujuan Instruksional yaitu penguasaan materi pokok bahasan.

b. Proses Pendidikan

Yang menjadi tujuan pengelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal. Sebab berkembangnmya tingkah laku peserta didik sebagai tujuan belajar hanya dimungkinkan oleh adanya pengalaman belajar yang optimal itu. Pengelolaan proses pendidikan harus memperhitungkan perkembangan ilmu dan teknologi.

  1. Unsur-unsur Pendidikan

Proses pendidikan melibatkan banyak hal, yaitu :

1) Subjek yang dibimbing (peserta didik).

2) Orang yang membimbing (pendidik).

3) Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif).

4) Kearah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan).

5) Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan).

  1. Pendidikan sebagai Sistem
    1. Pengertian Sistem

a) System adalah suatu kebetulan keseluruhan yang kompleks atau terorgasinir ; suatu himpunan ayau pepaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebetulan yang kompleks atau utuh.

b) System merupakan komponen yang saling berkaitan yang bersama-sama berfungsi intuk suatu tujuan.

    1. Komponen dan Saling Hubungan antara Komponen dalam Sistem Pendidikan

Toffler menganalogikan sekolah dengan sebuah pabrik.

a. system baru merupakan masukan mentah (raw input) yang akan diproses menjadi tamatan (output)

b. guru dan tenaga non guru, administrasi sekolah, kurikulum, anggaran pendidikan, prasarana dan sarana merupakan masukan instrumental (instrumental input) yang memunk\gkinkan dilaksanakannya pemrosesan masukan mentah menjadi tamatan.

c. Corak budaya dan kondisi ekonomi masyarakat, kependudukan, politik dan keamanan Negara merupakan factor lingkungan atau masukan lingkungan (environmental input) yang secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap berperannya masukan instrumental dalam pemrosesan masukan mentah.

3. keterkaitan antara pengajaran dan pendidikan

a. pengajaran dan pendidikan dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Masing – masing saling mengisi

b. pembedaan dilakukan dilakukan hanya untuk kepentingan analisis agar masing – masing dapat dipahami dengan baik

c. pendidikan modern lebih cenderung mengutamakan pendidikan, sebab pendidikan membentuk wadah, sedang pengajaran mengusahakan isinya. Wadah harus menetap meskipun isi bervariasi dan berubah.

4. Pendidikan pra jabatan dan pendidikan jabatan sebagai sebuah system

Pendidikan pra jabatan berfungsi memberikan bekal secara formal kepada calon pekerja dalam bidang tertentu dalam periode waktu tertentu seperti STM (Sekolah Tehnik Menengah) tiga tahun, diploma III matematika tiga tahun, ataupun Strata satu jurusan matematika empat tahun untuk dibekali menjadi pekerja dibidang teknik guru matematika pada SMP ataupun guru matematika pada SMA.

Sedangkan pendidikan dalam jabatan bermaksud memberikan bekal tambahan kepada orang - orang yang telah bekerja yang berupa penataran, kursus – kursus dan lain – lain.

5. pendidikan formal, informal dan non formal sebagai sebuah system

menurut UU No.2 tahun 1989 tantang system pendidikan nasional, dinyatakan setiap warga Negara diwajibkan mengikuti pendidikan formal minimal tamat SMP. Bagi warga Negara yang tidak sempat mengikuti ataupun menyelesaikan pendidikan pada jenjang tertentu dalam pendidikan formal disediakan pendidikan nonformal,untuk memperoleh bekal guna terjun kemasyarakat. Selanjutnya juga pendidikan informal sebagai suatu fase pendidikan yang berada disamping dan berada dilalm pendidikan formal dan nonformal yang satu sama lainnya bersifat komplementer sebagai sebuah system yang terpadu.

BAB III

LANDASAN DAN ASAS - ASAS PENDIDIKAN SERTA PENERAPANNYA

A. Landasan pendidikan

1. landasan filosofis

landasan filosofis merupakan salah satu landasanyang berkaitan dengan makna atau haikat pendidikan, yang berusaha menelaah masalah pokok seperti : apakah pendidikan itu, mengapa pendidikan itu diperlukan, apa yang seharusnya menjadi tujuannya, dan sebagainya.

Menurut wayan ardhana mengemukakan bahwa aliran filsafat itu bukan hanya mempengaruhi pendidikan, tetapi juga telah melahirkan aliran filsafat pendidikan seperti

a. idealisme

b. realisme

c. perenialisme

d. esensialisme

e. pragmatisme dan progresivisme

f. eksistensialisme

2. landasan sosiologi

kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu bahkan dua generasi yang memungkinkan generasi muda mengembangkan diri. Kegiatan yang sistematis terjadi dilembaga sekolah yang sengaja dibentuk oleh masyarakat dengan meningkatkatkan perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan tersebut, maka lahirlah sosiologi pendidikan.

3. Landasan Kultural

Kebudayaan sebagai gagasan dan karya manusia beserta hasil budi dan karya itu aklan selalu terkait dengan pendidikan, utamanya belajar. Kebudayaan dalam arti luas tersebut dapat berwujud :

1.ideal seperti gagasan, ide, nilai, dan sebagainya

2.kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat

3.fisik yakni benda hasil karya manusia

4. Landasan psikologis

pemahaman peserta didik yang utamnya berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan. Oleh karena itu hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan, umpama pengetahuan aspek – aspek pribadi, urutan dan cirri – ciri pertumbuhan setiap aspek, dan konsep tentang cara – cara paling tepat untuk mengembangkan. Oleh karena itu pemahaman mengenai hal – hal tersebut akan sangat penting bagi pendidikan bukan hanya tentang cirri – ciri perbedaannya, tetapi juga perkembangan dan factor penyebabnya bagai mana cara penanganannya dan sebagainya

5. Landasan ilmiah dan Teknologis

Pengetahuan yang memenuhi Kriteria dari segi ontologis,epistemologis,dan aksiologis secara konsekuen dan penuh disiplin biasa disebut Ilmu ataupun ilmu pengetahuan atau science, kata sifat sifatnya adalah ilmiah atau keilmuan, sedangkan ahlinya adalah ilmuan. Dengan demikian keilmuan meliputi berbagai cabang ilmu (ilmu social dan ilmu – ilmu alam),humaniora (seni, filsafat, bahasa dan sebagainya),serta wahyu keagamaan atau yang sejenisnya

Pendidikan serta ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai kaitan yang erat. Seperti diketahui, IPTEK menjadi bagian utama dalam isi pengajaran dengan kata lain pendidikan berperan sangat penting dalam pewarisan dan pengembangan IPTEK. Seiring dengan kemajuan IPTEK pada umumnya ilmu pendidikan juga mengalami keajuan yang pesat, demikian pula dengan cabang – cabang khusus dari ilmu – ilmu perilaku yang mengkaji pendidikan seperti pskilogi pendidikan dan sosiologi pendidikan.

Dengan perkembangan IPTEK dan kebutuhan masyarakat yang makin komplek maka pendidikan dalam segala aspeknya mau tak mau harus mengakomodasi perkembangan itu baik perkembangan IPTEK maupun perkembangan masyarakat. Selanjutnya, karena kebutuhan pendidikan yang sangat mendesak maka banyak teknologi dari berbagai bidang ilmu segera diadopsi kedalam penyelenggaraan pendidikan dan atau kemajuan itu segera dimanfaatkan oleh penyelenggara pendidikan itu.

B. Asas – Asas pokok pendidikan

Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Khusus untuk pendidikana di Indonesia terdapat sejumlah asas yang memberi arah dalam meransang dan melaksanakan pendidikan itu. Asas – asas tersebut adalah :

1. Asas Tut Wuri Handayani

2. Asas Belajar Sepanjang Hayat

3. asas kemandirian dalam belajar

BAB IV

Perkiraan dan antisipasi terhadap masyarakat masa depan

a. Perkiraan Masyarakat masa Depan

Pendidikan selalu berlangsung dalam suatu latar kemasyarakatan dan kebudayaan tertentu. Perkembangan masyarakat beserta kebudayaannya saat ini makin mengalami percepatan serta meliputi seluruh aspek kehidupan dan penghidupan manusia. Perubahan yang cepat tersebut mempunyai beberapa karakteristik umum yang dapat dijadikan petunjuk sebagai cirri masyarakat dimasa depan.

1. Kecenderungan Globalisasi

Istilah globalisasi (asal kata global yang berarti secara umumnya adalah utuh atau kebulatannya) bermakna bumi sebagai satu keutuhan seakan – akan tanpa tapal batas administrasi Negara, dunia menjadi amat transparan, serta saling ketergantungan antar bangsa semakin besar dengan kata lain menjadikan dunia sebagai satu keutuhan, satu kesatuan. Suatu peristiwa yang terjadi dalam suatu Negara akan tersebar dengan cepat keseluruh pelosok dunia, dari perkotaan sampai kepedesaan, serta akan mempunyai pengaruh terhadap manusia dan masyarakat dimanapun didunia ini. Oleh karena itu banyak gagasan dalam menghadapi globalisasi itu yang menekankan perlunya berpikir dan berwawasan global namun harus tetap menyesuaikan keputusan dan tindakan dengan keadaan nyata disekitarnya

2.Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Terdapat serangkaian kegiatan pengembangan dan pemanfaatan iptek yakni penelitian dasar, penelitian terapan, pengembangan teknologi, penerapan teknologi. Telah dikemukakan bahwa globalisasi perkembangan iptek yang cepat tersebut adalah peluang dan tantangan. Terbuka peluang bagi kita untuk mengikuti perkembangan iptek tersebut secara dini. Sebaliknya, apabila masyarakat belum siap menerimanya, maka akan berubah menjadi tantangan. Untuk mengantisipasi keadaan tersebut, dalam masyarakat masa depan maka perlu diupayakan agar setiap masyarakat 'melek' IPTEK. Yakni memiliki wawasan yang tetap serta mengetahui terminology beserta maksudnya yang lazim digunakan tanpa harus menjadi pakar iptek.

3. Perkembangan Arus Komunikasi yang Semakin Padat dan Cepat

Perkembangan komunikasi dengan arus komunikasi yang makin padat dan akan dipercepat dimasa depan, mencakup keseluruhan unsur – unsur dalam proses komunikasi tersebut.sumber pesan mencakupaspek kehidupan manusia yakni keseluruhan unsur – unsur kebudayaan, mulai dari sistem dan upacara keagamaan sampai dengan sistem teknologi dan peralatan.

4. Peningkatan Layanan Profesional

Salah satu ciri penting masyarakat masa depan adalah meningkatnya kebutuhan layanan profesional dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Karena perkembangan iptek yang makin cepat serta perkembangan arus informasi yang makin padat dan cepat, maka anggota masyarakat masa depan semakin luas wawasan dan pengetahuannya serta daya kritis yang makin tinggi. Profesionalisasi merupakan proses pemantapan profesi sehingga memperoleh status yang melembaga sebagai profesional, didalamnya akan terkait dengan permasalahan akreditas, sertifikasi dan izin praktek. Hal itu harus diimbangi dengan peningkatan kualitas tenaga profesional secara berencana dan sistematis, baik pada pendidikan pra jabatan maupun pendidikan dalam jabatan. Hal itu menuntut suatu kerja sama antar tenaga profesional yang semakin erat. Dengan demikian, kualitas hidup dan kehidupan manusia dalam masyarakat dimasa depan akan lebih baik lagi.

B. Upaya Pendidikan Dalam Mengantisipasi Masa Depan

Upaya mengantisipasi masa depan melalui pendidikan akan diarahkan pada :

· Aspek perubahan nilai dan sikap

Perubahan nilai dan sikap dalam rangka mengantisipasi masa depan haruslah diupayakan sedemikin rupa sehingga dapat mewujudkan keseimbangan dan keserasian antara aspek pelestarian dan aspek pembaharuan. Oleh karena itu

"pendidikan harus selalu menjaga secara seimbang pembentukan kemampuan mempertanyakan, disamping kemampuan menerima dan mempertahakan". Keserasian dan keselarasan antara pelestarian dan pembaharuan nilai dan sikap tersebut yang akan memberikan peluang keberhasilan menjemput masadepan itu.

· Pengembangan Pebudayaan

Salah satu upaya penting dalam mengantisipasi masa depan adalah upaya yang berkaitan dengan pengembanga kebudayaan dalam arti luas, termasuk hal – hal yang berkaitan dengan sarana kehidupan manusia. Oleh karena itu manusia Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh budaya setempat (sesuai dengan etnis yang ada di nusantara) dan budaya indonesi (yang berkembang dari puncak budaya – budaya nusantara itu), akan tetapi juga menerima berbagai pengaruh budaya dunia. Dalam menghadapi berbagai pengaruh tersebut setiap individu diharapkan dapat menyelaraskannya dengan baik agar dapat menyesuaikan diri dengan dunia yang selalu berubah tersebut dengan berhasil.

· Pengembangan Sarana Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam mengantisipasi masa depan karena pendidikan selalu diorientasikan pada penyiapan peserta didik untuk berperan dimasa yang akan datang. Oleh karena itu pengembangan sarana pendidikan sebagai salah satu prasyarat utama untuk menjemput masa depan dengan segala kesempatan dan tantangannya.

BAB V

PENGERTIAN, FUNGSI, DAN JENIS LINGKUNGAN PENDIDIKAN

A. Pengertian dan Fungsi Lingkungan Pendidikan

Manusia memiliki sejumlah kemampuan yang didapat dikembang melalui pengalaman. Pengalaman itu terjadi karena interaksi manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosialmanusia secara efisien dan efektif itulah yang disebut dengan pendidikan. Lingkungan pendidikan pertama dan uyama adalah keluarga. Makin bertambah usia seseoarang, peranan lingkungan pendidikan lainnya (yakni sekolah dan masyarakat) semakin penting semakin penting meskipun pengaruh lingkungan keluarga masih berlanjut.

Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah memebantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya (fisik, sosial, budaya), utamanya berbagai summber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat dicapai tujuan pendidikan yang optimal. Penataan lingkungan pendidikan itu terutama dimaksudkan agar proses pendidikan dapat berkembang efisien dan efektif.

B. Tripusat Pendidikan

1. Keluarga

Keluarga merupakan pengelompokkan primer yang terdiri dari sejumlah kecil orang karena hubungan semenda dan sedarah. Menurut Ki Hajar Dewantoro, suasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melekukan pendidikan orang-seorang (pendidikan individual) maupun pendidikan sosial. Keluarga itu tempat pendidikan yang sempurna sifat dan wujudnya untuk melangsungan pendidikan ke arah pembentukan pribadi yang utuh, tidak saja bagi kanak-kanak tapi juga bagi para remaja. Peran orang tua dalam kelarga sebagai penuntun, sebagai pengajar, dan sebagai pemberi contoh.

Lingkungan keluarga sungguh-sungguh merupakan pusat pendidikan yang penting dan menentukan, karena itu, tugas pendidikan adalah mencari cara,membantu para ibu dalam tiap keluarga agar dapat mendidik anank-anaknya dengan optimal. Jelaslah bahwa lingkungan keluarga bukannya pusat penanaman dasar pendidikan watak pribadi saja, tetapi pendidikan sosial.

2. Sekolah

Diantara tiga pusat pendidikan, sekolah merupakan sarana yang secara sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan. Dengan demikian, pendidikan disekolah seyogianya secara seimbang dan serasi menjamah aspek pembudayaan, penguasaan pengetahuan, dan pemilikan keterampilan peserta didik.

3. Masyarakat

Kaitan antara masyarakat dengan pendidikan dapat ditinjau dari tiga segi, yakni :

a. masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan, baik yang di lembagakan (jalur sekolah dan jalur luar sekolah) maupun yang tidak di lembagakan (jalur luar sekolah).

b. Lembaga-lembaga kemasyarakatan dan atau kelompok sosial di masyarakat, baik langsung maupun tak langsung, ikut mempunyai peran dan fungsi edukatif.

c. Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar, baik yang dirancang maupun yang dimanfaatkan. Perlu pula diingat bahwa manusia dalam bekerja dan hidup sehari-hari akan selalu berupaya memperoleh manfaat dari pengalaman hidupnya itu untuk meningkatkan dirinya. Dengan kata lain, manusia berusaha mendidik dirinya sendiri dengan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang tersedia di masyarakatnya dalam bekerja, bergaul, dan sebagainya.

D. Pengaruh Timbal Balik antara Tripusat Pendidikan Terhadap Perkembangan Peserta Didik

Perkembangan peserta didik, seperti juga tumbuh kembang anak pada umumnya, dipengaruhi oleh berbagai faktor yakni hereditas, lingkungan, proses perkembangan, dan anugerah. Khusus untuk faktor lingkungan, peranan tripusat pendidikan itulah yang paling menentukan, baik secara sendiri-sendiri ataupun secara bersama-bersama. Dikaitkan dengan tiga poros kegiatan utama pendidikan (membimbing, mengajar, dan melatih), peranan ketifga tripusat pendidikan itu, bervariasi meskipun ketiganya melakukan tiga kegiatan pokok dalam pendidikan tersebut. Kaitan antar tripusat poendidikan dengan tiga kegiatan pendidikan untuk mewujudkan jati diri yang mantap, penguasaan pengetahuan, dan kemahiran keterampilan dilukiskan bahwa setiap pusat pendidikan dapat berpeluang memberi kontribusi yang besar dalam ketiga kegiatan pendidikan, yakni :

1) Pembimbingan dalam upaya pemantapan pribadi yang berbudaya.

2) Pengajaran dalam upaya penguasaan pengetahuaan.

3) Pelatihan dalam upaya pemahiran keterampilan.

BAB VI

ALIRAN-ALIARAN PENDIDIKAN

  1. Aliran Klasik dan Gerakan Baru dalam Pendidikan

Aliran- aliran klasik yang meliputi aliran- aliran empirisme, nativisme, naturalisme, dan konvergensi merupakan barang-barang mewah yang menghubungkan pemikiran-pemikiran masa lalu, kini, dan mungkin yang akan datang. Aliran-aliran itu mewakili berbagai variasi pendapat tentang pendidikan, mulai dari yang paling pesimis sampai dengan yang paling optimis. Aliran yanmg paling pesimis memandang bahwa pendidikan kurang bermanfaat, bahkan mungkin merusak bakat yang telah dimliki anak. Sedangkan sebaliknya, aliran yang sngat optimis memandang anak seakan-akan tanah liat yang dapat dibentuk sesuka hati. Banyak pemikiran yang berada diantara kedua kutubtersubut, yang dapat dipandang sebagai variasi gagasan dan pemikiran dalam pendidikan.

    1. Aliran-aliran Klasik dalam Pendidikan dan Pengaruhnya Terhadap Pemikiran Pendidikan di Indonesia

a. Aliran Empirisme

Seorang filisuf inggris bernama Jhon Lock yang mengembangkan teori “Tabula Rasa”, yakni anak lahir didunia bagaikan kertas putih yang bersih. Pengalaman empirik yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak. Menurut pandangan empirisme pendidikan memegan peranan yang sangat penting sebab pendidikan dapat menyediakan linkungan pendidikan kepada anak dan akan diterima oleh anak sebagai pengalaman-pengalaman. Pengalaman-pengalaman itu tentunya yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

b. Aliran Nativisme

Pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Pendidikan tidak berpengaruh terhadap perkembangan seseorang. Dengan demikian, mendidik adalah membiarkan seseorang tumbuh berdasarkan pembawaanya.

c. Aliran Naturalisme

pendidikan hanya memiliki kewajiban memberi kesempatan anak untuk tumbuh dengan sendirinya. Semua anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan yang baik. Pembawaan yang baik akan rusak karena dipengaruhi oleh lingkungan. Pendidikan yang diberikan adalah menyerahkan anak anak didik ke alam, agar pembawaan yang baik itu tidak rusak oleh tangan manusia melalui proses dan kegiatan pendidikan itu.

d. Aliran Konvergensi

Bakat pembawaan yang dan lingkungan atau pengalamanlah yang menentukan pembentukan pribadi seseorang. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu. Jadi menurut teori konvergensi :

1) Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan.

2) Pendidikan diartikan sebagai pertolongsn yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yanag kurang baik.

3) Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.

    1. Gerakan Baru Pendidikan dan Pengaruhnya Terhadap Pelaksanaan di Indonesia

a. Pengajaran Alam Sekitar

Peserta didik akan mendapatkan kecakapan dan kesanggupan baru dalam menghadapi dunia kenyataan. Melalui penjelajahan yang dilakukan, maka sekarang peserta didik akan menghayati secara langsung tentang keadaan alam sekitar, belajar sambil mengerjakan sesuatu dengan serta merta memanfaatkan waktu senggangnya.

b. Pengajaran Pusat Perhatian

Pengajaran pusat perhatian dirintis oleh Ovideminat Decroly dari Belgia dengan pengajaran melalui pusat-pusat minat (Centres d’interet). Dari penyelidikannya, menyatakan bahwa anak-anak mempunyai minat yang spontan. Pengajaran harus disesuaikan dengan minat-minat spontan tersebut.

Gerakan pengajaran pusat perhatian tersebut telah mendorong berbagai upaya agar dalam kegiatan belajar mengajar diadakan berbagai variasi (cara mengajar, dan lain-lain) agar perhatian siswa tetap terpusat pada bahan ajaran. Dengan kemajuan teknologi pengajaran, peluang mengadakan variasi tersebut menjadi terbuka lebar, dan dengan demikian upaya menarik minat menjadi lebih besar. Pemusatan perhatian dalam pengajaran biasanya dilakukan bukan hanya pada pembukaan pengajaran, tetapi juga pada setiap kali akan membahas subtopik yang baru.

c. Sekolah Kerja

G. kerschensteiner sebagai bapak sekolah kerja dengan arbeitschule-nya (sekolah kerja) di jerman. Perlu dikemukakan bahwa pendidikan tidak hanya demi kepentingan masyarakat.

Kerschensteiner berpendapat bahwa kewajiban utama sekolah adalah mempersiapkan anak-anak untuk bekerja.

d. pengajaran proyek

pengajaran proyek akan menumbuhkan kemampuan untuk memandang dan memecah persoalan secara komprehensif ; dengan kata lain, menumbuhkan kemampuan pemecahan masalah secara multidisiplin. Pendekatan multidisiplin tersebut makin lama mkin penting, utamanya dalam masyarakat yang baru.

e. Pengaruh Gerakan Baru dalam Pendidikan Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan di Indonesia

Telah dikemukakan bahwa gerakan baru dalam pendidikan tersebut terutama berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah, namun dasar-dasar pikirannya tentulah menjangkau semua dari segi pendidikan, baik aspek konseptual maupun operasional. Sebagai contoh telah dikemukakan pada setiap paparan tentang gerakan itu, untuk indonesia, seperti muatan lokal dalam kurikulum untuk mendekatkan peserta didik dengan lingkungannya, berkembangnya sekolah kejuruan, pemupukan semangat kerja sama multidisiplin dalam menghadapi masalah dan sebagainya.

  1. Dua “Aliran”Pokok Pendidikan di Indonesia

1. Perguruan Taman Siswa

a. Asas dan Tujuan Taman Siswa

· Asas Kemerdekaan

· Asas Kodrat Alam

· Asas kebudayaan

· Asas kebangsaan

· Asas Kemanusiaan

Tujuannya adalah

Membangun anak didik menjadi manusia yang merdeka lahir batin, luhur akal budinya, serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab atas keserasian bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya.

b. Upaya-upaya Pendidikan yang Dilakukan Taman Siswa

Taman siswa berusaha dengan jalan sebagai berikut :

1. menyelenggarakan tugas pendidikan dalam bentuk perguruan dari tingkat dasar hingga tingkat tinggi, baik yang bersifat umum maupun yang bersifat kejuruan.

2. mengikuti, mempelajari perkembangan dunia di Luar Taman Siswa yang ada hubungannya dengan bidang-bidang kegiatan-kegiatan Taman Siswa, untuk di ambil faedah sebaik-baiknya.

3. menumbuhkan dan memasakkan lingkungan hidup keluarga Taman Siswa, sehingga dapat tampak benar wujud masyarakat Taman Siswa yang dicita-citakan.

4. meluaskan kehidupan ke-Taman Siswa-an di luar lingkungan masyarakat perguruan.

2. Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam

a. Asas dan Tujuan Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam

1. Berpikir logis dan rasional.

2. Keaktifan atau kegiatan.

3. Pendidikan masyarakat.

4. Memperhatikan pembawa anak.

5. Menentang intelektualisme.

Tujuannya adalah

1) mendidik rakyat kearah kemerdekaan.

2) Memberi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

3) Mendidik para pemuda agar berguan untuk masyarakat.

4) Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan berani bertanggung jawab.

5) Mengusahakan mandiri dalam pembiayaan.

b.Usaha-usaha Ruang Pendidik INS Kayu Tanam

beberapa usaha yang dilakukan Ruang Pendidik INS Kyu Tanam yang dalam bidang kelembagaan antara lain menyelenggarakan berbagai jenjang pendidikan, seperti ruang rendah (7 tahun, setara sekolah dasar), ruang dewasa (setara sekolah menengah) dan sebagainya.

BAB VII

PERMASALAHAN PENDIDIKAN

A. Permasalahan Pokok Pendidikan dan Penanggulangannya

Pada dasarnya ada dua masalah pokok yang di hadapi oleh dunia pendidikan di Tanah Air kita dewasa ini, yaitu :

a. bagaimana semua warga negara dapat menikmati kesempatan pendidikan.

b. Bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun kedalam kencah kehidupan bermasyarakat.

B. Jenis Permasalahan Pokok Pendidikan

1. Masalah Pemerataan Pendidikan

2. Masalah Mutu Pendidiakan

3. Masalah Efisiensi Pendidikan

4. Masalah Relevansi Pendidikan

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi Berkembangnya Masalah pendidikan

1. Laju perkembangan iptek dan seni

2. Laju pertumbuhan penduduk

3. Aspirasi masyarakat

4. Keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan

D. Upaya Penanggulangannya

a. pendidikan afektif perlu ditingkatkan secara terprogram tidak cukup berlangsung hanya secara insidental.

b. pelaksanaan ekstrakurikuler dikerjakan dengan penuh kesungguhan dan hasilnya diperhitungkan dalam menetapkan nilai akhir ataupun pelulusan.

c. pemilihan siswa atas kelompok yang akan melanjutkan belajar ke pergruan tinggi dengan yang akan terjun ke masyarakat merupakan hal yang prinsip karena pada dasarnya tidak semua siswa secara potensial mampu belajar di perguruan tinggi.

d. pendidikan tenaga kependidikan pelu diberi perhatian khusus, oleh karena kependidikan khususnya guru menjadi penyebab utama lahirnya sumber daya manusia yang berkualitas untuk pembangunan.

e. untuk pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun, apalagi jika dikaitkan dengan gerakan wajib belajar, perlu didakan penelitian secara meluas pada masyarakat untuk menemukan faktor penunjang dan utamanya faktor penghambatnya.

BAB VIII

SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

A. Kelembagaan, Program, dan Pengelolaan Pendidikan

1. Kelembagaan pendidikan

a. Jalur Pendidikan

· Jalur pendidikan sekolah

· Jalur pendidikan luar sekolah

b. jenjang pendidikan

· Jenjang pendidikan dasar

· Jenjang pendidikan menengah

· Jenjang pendidikan tinggi

2. Program dan pengelolaan pendidikan

a. pendidikan umum

b. pendidikan kejuruan

c. pendidikan luar biasa

d. pendidikan kedinasan

e. pendidikan keagamaan

B. Upaya Pembangunan Pendidikan Nasional

1. Jenis Upaya Pendidikan

· pembaruan landasan yuridis

· pembaruan kurikulum

· pembaruan pola masa studi

· pembaruan tenaga kependidikan

2. Dasar dan Aspek legal Pembangunan Pendidikan Nasional

Berupa ketentuan-ketentuan yuridis yang menjadi dasar, acuan, serta mengatur penyelenggaraan sistem pendidikan nasional, seperti Pancasila, UUD 1945, GBHN, UU organik pendidikan, peraturan pemerintah, dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar