Rabu, 20 Mei 2009

Seputar Ujian Nasional Siswa Sekolah Menengah Kejuruan Bisa tak Lulus walau Kompetensinya Baik



Seperti diketahui SMK mengelola program jurusan beragam seperti teknik, pariwisata, kesejahteraan keluarga, dan kesenian. Sementara kalangan guru mengakui, tidak semua mata pelajaran tersebut berhubungan langsung dengan kebutuhan dunia kerja sesuai jurusannya. “Namun tiga mata pelajaran tersebut merupakan acuan dasar kemampuan siswa,” ujar Kepala SMKN 5 Denpasar, Drs. I Wayan Darya Kusuma.
Ia mengatakan, bagi sekolah dengan program jurusan Pariwisata dan Seni yang dipimpinnya, pelajaran Bahasa Inggris bermanfaat secara langsung dalam dunia kerja tamatan siswanya. Namun Darya tak mengganggap dua mata pelajaran lainnya, Matematika maupun Bahasa Indonesia, tak penting. “Bahasa Indonesia, misalnya, jika mereka bekerja di hotel atau restoran, pengetahuan dan keterampilan dalam bahasa Indonesia dirasa perlu dalam komunikasi antarteman atau dengan atasan. Jika kebanyakan tamu datang dari mancanegara, fungsi Bahasa Inggris lebih dominan,” tambahnya.
Matematika, menurutnya, juga bermanfaat dalam lingkungan kerja. “Di dunia pariwisata juga diperlukan logika, misalnya untuk menghitung perencanaan tur dalam jurusan Usaha Jasa Pariwisata, atau analisis bahan makanan dalam jurusan Tata Boga. Untuk seni kerawitan, Matematika dapat digunakan menghitung komposisi gerakan,” ujarnya.
Namun Darya menyayangkan jika tiga mata pelajaran tersebut dipakai sebagai penentu dominan lulus-tidaknya siswa SMK dalam UN. Jika fungsinya untuk menentukan kualitas sekolah, itu tak masalah. Ia berharap untuk SMK tingkat kelulusan sebaiknya ditentukan melalui uji kompetensi jurusan. Siswa di SMK rata-rata waktu dan fokus belajarnya lebih banyak ke arah jurusan yang mereka pilih. Untuk pelajaran adaptif seperti Matematika dan Bahasa Indonesia waktu belajarnya lebih sedikit. “Saya tak ingin anak SMK yang baik kompentesinya tak lulus gara-gara nilai tiga mata pelajaran tersebut dalam UN tidak lolos,” ujarnya.
Darya mengungkapkan ada beberapa muridnya yang tak lulus akibat nilai UN-nya jeblok. Padahal dari segi keahlian dan keterampilan, mereka cukup berkompeten.

Diserap Bengkel
SMK lainnya, SMKN 1 Denpasar (dulu STM), misalnya, menonjolkan Matematika dalam pembelajarannya. Menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 1 Denpasar, Made Sudanes, pelajaran Matematika lebih banyak praktik daripada teori, dan dominan dalam proses pembelajaran sehari-hari, yakni sekitar 8 jam per minggu. Bahasa Inggris 6 jam, Bahasa Indonesia 2 jam.
Dengan adanya lima keahlian yakni bangunan, elektronik, informatika, dan mesin, Danes mengaku Bahasa Inggris tak begitu berfungsi langsung di dunia kerja siswa tamatan sekolahnya. Lulusan SMKN 1 lebih banyak diserap industri bengkel atau bangunan. Namun karena sebagian besar teknologi bersumber dari negara asing dengan istilah–istilahnya banyak menggunakan bahasa asing, fungsi Bahasa Inggris menjadi penting.
Bahasa Indonesia memiliki fungsi penting karena saat berpresentasi hasil kerjanya mereka menggunakan Bahasa Indonesia. Di dunia kerja bagi tamatan sekolahnya, Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat komunikasi. - lik

Dunia Kerja Utamakan Kompetensi
PERUSAHAAN kian jeli dan selektif memilih tenaga kerja. Bukan didasarkan atas nilai di atas kertas, namun berdasarkan keahlian. Seperti pengakuan alumni siswa SMKN 5 yang kini telah terjun ke dunia kerja. Luh Made Swarini, gadis yang tak mau difoto ini, misalnya, telah diterima bekerja di sebuah hotel di Kuta tanpa mengunakan izasah. Hotel yang menerimanya bekerja adalah tempat ia melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Luh De sempat tak percaya bisa bekerja tanpa menggunakan nilai hasil UN. “Saya hanya menggunakan sertifikat kompetensi,” akunya. Sebagai seorang house keeper, ia mengaku tak begitu memanfaatkan bidang studi Matematika dalam tugasnya. Namun dalam kesehariannya, karena tamu yang datang kebanyakan tamu domestik, ia lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia daripada Bahasa Inggris. Tiga mata pelajaran dalam UN dirasakan sedikit relevansinya dengan tugasnya sehari-hari.
Yuni Rahayu, alumnus SMKN 5 tahun 2003, juga mengaku telah bekerja di hotel di kawasan Sanur, semata-mata karena kinerjanya saat PKL. Yuni bekerja di hotel tersebut sejak ia duduk di bangku kelas 2. “Dulu saya bekerja sambil sekolah. Namun kini karena kondisi tamu sepi, saya tak lagi bekerja di tempat itu,” ujarnya. Menurutnya tiga mata pelajaran UN-nya, sangat besar relevansinya dengan tugasnya sebagai receptionist hotel.

Menunjang Profesionalisme
Kepala Subdinas Pendidikan Menengah Umum dan Kejuruan Dinas Pendidikan Nasional Bali Drs Ketut Wija, M.M. menjelaskan relevansi mata pelajaran Ujian Nasional bagi siswa SMK dengan dunia kerja. “Selain hal itu berdasarkan pada kurikulum masing-masing jurusan, tiga bidang studi tersebut juga dapat menunjang profesionalisme kerja mereka setelah terjun ke dunia kerja, ” tegasnya.
Ia menjelaskan, Matematika di Sekolah Teknik berbeda dengan Matematika di Sekolah Pariwisata, misalnya. Pembelajarannya berdasarkan kurikulum sekolah kejuruan masing-masing. Manfaat dapat diperoleh dari ketiga mata pelajaran tersebut. Matematika, misalnya, dapat mengajarkan anak berpikir lebih kritis, sistematis, berdasarkan logika. Bahasa Inggris mampu menunjang komunikasi mereka dengan dunia luar. “Mereka tak selamanya menjadi kuli. Dengan tiga mata pelajaran tersebut, saya berharap mereka bisa meningkatkan diri menjadi lebih profesional dan meningkat karier jabatannya,” ujarnya.
Matematika dalam jurusan teknik, misalnya, selain berguna langsung dalam proses pekerjaan, juga mampu menumbuhkan logika siswa, yakni bagaimana caranya mengembangkan perusahaan, memimpin perusahaan dengan memperhatikan neraca perusahaan. Logika tersebut akan menumbuhkan semangat anak didik dalam mengembangkan diri, sehingga tak selamanya menjadi buruh.
Dalam menentukan kelulusan siswa, Wija mengatakan, tidak hanya berdasarkan nilai Ujian Nasional. Tingkat lulus-tidaknya siswa juga ditentukan nilai mata pelajaran produktif seperti uji kompetensi maupun ujian sekolah. Tetapi saat ini masyarakat lebih memandang ujian sekolah tak memiliki bobot penentu kelulusan siswa. “Bobot nilai Ujian Sekolah sama dengan Ujian Nasional. Namun nilai Ujian Sekolah ditentukan sekolah masing-masing. Tak mungkin ‘kan sekolah memberikan nilai yang menjatuhkan siswanya,” tuturnya.
Untuk terjun ke dunia kerja dengan tingkat profesionalisme tertentu, siswa tak cukup fokus ke bidang produktif, tetapi bidang adaptif juga penting. “Materi pelajaran adaptif di SMK disesuaikan dengan jurusan, sehingga hal tersebut tak membebani siswa,” tuturnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar